Workshop Dokumentasi Budaya di Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros

Workshop Dokumentasi Budaya adalah sebuah program yang bertujuan untuk memberikan pelatihan terkait tata cara dokumentasi budaya yang terdiri dari deskripsi objek budaya, wawancara, hingga pengambilan foto maupun video. Program ini sekaligus sebagai upaya dalam menciptakan sebuah kesadaran terkait keberagaman budaya yang ada di Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.

Workshop Dokumentasi Budaya berlangsung selama tiga hari yaitu pada tanggal 26-28 Juli 2024, bertempat di Rapang-Rapang Desa Tompobulu, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Pelaksanaan kegiatan terbagi menjadi dua model yaitu pemberian materi dan praktik (Pengumpulan data). Pemberian materi dilakukan untuk memberikan pengetahuan secara teoritis kepada peserta mengenai data-data yang harus dikumpulkan. Adapun materi yang diberikan yaitu, materi pengantar tentang objek arkeologi, materi kepenulisan dan deskripsi, serta materi tentang fotografi dan videografi. Setelah pemberian materi, dilakukan kegiatan praktik. Peserta diarahkan untuk menerapkan materi yang telah didapatkan.
Pada saat perealisasian, peserta didampingi oleh fasilitator di lapangan. Mereka mengunjungi langsung objek tertentu yang diduga sebagai bekas tinggalan dari Kerajaan Tanralili. Peserta melakukan pendataan berupa deskripsi dan foto atau video. Data awal mengenai indikasi objek tinggalan Kerajaan Tanralili didapatkan dari hasil studi literatur dan focus group discussion yang telah dilakukan sebelumnya. Selanjutnya, data yang telah terkumpul dievaluasi dan diolah kembali oleh fasilitator sebagai bagian dari finalisasi data. Adapun output dari kegiatan ini ialah berupa tulisan/ infografis/video pendek dari objek yang telah dikunjungi.

Kegiatan ini didukung oleh program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dan melibatkan berbagai kolaborator lintas organisasi seperti National Archaeology (NALAR), Badan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Pengurus Maros,  Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Bumi Toala Indonesia, Sureq Celebes, Alliri Budaya, Antropos, Pappasang, Keluarga Mahasiswa Arkeologi Universitas Hasanuddin (KAISAR FIB-UH) serta Wallacea Heritage Indonesia.

Workshop ini tidak hanya menjadi medium transfer pengetahuan teknis, tetapi juga menjadi ruang dialog antar generasi untuk membicarakan nilai, makna, dan tantangan pelestarian budaya lokal. Di tengah laju perubahan zaman dan tekanan globalisasi, penguatan kapasitas pemuda menjadi sangat penting agar mereka mampu menjadi penjaga warisan leluhur. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi, tidak hanya dalam praktik dokumentasi tetapi juga dalam menggali kembali cerita-cerita lama, simbol, serta peran penting kerajaan lokal seperti Tanralili dalam struktur sosial masyarakat adat Tompobulu. Melalui pendekatan partisipatif, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas dan daya hidup masyarakat. Dokumentasi budaya bukan hanya tentang merekam, tetapi juga tentang memaknai, merawat, dan mewariskan untuk dinikmati di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *